Gaya Busana Gaya BusanaTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
general

Lemari Bukan Sekadar Pakaian: Gaya Busana yang Lahir dari Cerita

Dari Pulaureusam, Zatira Pratiwi mengamati bagaimana gaya busana anak muda kini lebih mementingkan cerita daripada label mahal. Thrifting dan barang vintage jadi pilihan.

21 May 2026 · 2 menit baca · oleh Zatira Pratiwi Manurung
Lemari Bukan Sekadar Pakaian: Gaya Busana yang Lahir dari Cerita

Pekan lalu saya duduk di kafe pinggir pantai Pulaureusam. Dua meja di depan, seorang lelaki berkemeja kerja lusuh dengan lipatan tak rapi. Di dadanya, logo universitas asing yang sudah pudar. Teman di sebelahnya pakai jeans robek hasil jahitan sendiri.

Mereka bukan abang-abang pinggir jalan, melainkan pekerja kreatif yang sengaja merawat tampilan seleksi. Gaya busana di kota ini, saya sadar, mulai bergeser. Bukan lagi soal harga, apalagi soal mereka yang teriak “gaya”.

Gaya Berbasis Cerita

Dulu saya pikir tren busana cuma soal ngikutin selebritas atau iklan. Tapi di Pulaureusam, anak muda justru makin percaya diri pake barang bekas dan vintage. Mereka berburu di pasar loak, toko barang seken, atau Instagram thrift shop. Alasannya sederhana bangeet: setiap potongan punya narasi unik yang nggak bisa ditemuin di toko ritel massal.

Saya punya teman, Fandi. Koleksinya kemeja batik tahun 1990-an. Katanya motifnya lebih berani, modelnya lebih longgar, cocok buat cuaca kota yang panas. Waktu dia pake ke acara, orang nggak tanya “beli di mana”, melainkan “punya cerita apa”. Dia bisa cerita asal-usul kain itu dari pasar loak di Jawa, siapa penjualnya, gimana cara memadupadankannya sama celana beige.

Fenomena ini bukan cuma soal hemat, tapi soal identitas. Gaya busana skrg bukan lagi monopoli label besar. Generasi Z dan milenial di Indonesia makin sadar bahwa pakaian bisa jadi media ekspresi yang lebih personal. Mereka bahkan rela antre sebntar untuk preloved item dari luar negeri, demi dapetin potongan yang nggak ada duanya.

Tren thrifting ini juga didukung gerakan slow fashion yang dorong kita buat berpikir ulang sebelum beli baju baru. Alih-alih beli lima potong fast fashion, mereka pilih satu barang yang bener-bener disukai. Langkah kecil ini, kalau diikuti banyak orang, bisa ngurangin limbah tekstil. Wikipedia mencatat thrifting mulai populer di Indonesia sejak awal 2010-an dan terus bertumbuh.

Tentu gaya busana bukan satu-satunya hal yang berubah. Cara kita memandang “bergaya” juga ikut bertransformasi. Dari yang tadinya soal pamer, kini soal bercerita. Dari yang tadinya ikut arus, kini soal milih arus mana yang paling cocok.

Saya ingat Fandi pernah bilang, “Gaya itu bukan apa yang kamu pake, tapi siapa yang kamu jadi saat memakainya.” Mungkin benar. Di sudut kafe tadi, dua pemuda dengan kemeja lusuh dan jeans jahitan sendiri itu tertawa lepas. Mereka nggak peduli apakah orang lain menilai baik atau buruk. Yang penting, pakaian yang mereka kenakan hari ini adalah bagian dari cerita yang mereka pilih untuk dihidupi.

Sekelompok anak muda sedang berbelanja pakaian bekas di pasar loak

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #gaya busana #thrifting #tren anak muda #fashion Indonesia